Selasa, 12 Maret 2013

Rational Emotive Therapy


Rational Emotive Therapy

              Dalam konseling ada beberapa pendekatan yang bisa digunakan oleh seorang konselor untuk untuk membantu memberikan layanan kepada klien mengenai permasalahanya. Salah satunya adalah Layanan Konseling dengan pendekatan Rational Emotive Therapy (RET), Nahloh penasaran kan dengan apa yang gua maksut dengan RET? Haha pantenging terus dhe layar lu pada :)
A.    Pengertian Pendekatan Konseling Rational Emotive Therapy (RET)
Menurut Andi Mappiare, Rational Emotive Therapy (RET) adalah suatu rancangan terapeutik dalam konseling atau psikoterapi.[1] Kemudian W.S. Winkel dalam bukunya Bimbingan dan Konseling di Institusi Pendidikan memberikan pengertian Rational Emotive Therapy adalah corak konseling yang menekankan kebersamaan dan interaksi antara berfikir dengan akal sehat, berperasaan, dan berperilaku, serta sekaligus menekankan bahwa suatu perubahan yang mendalam dalam cara berfikir dapat menghasilkan perubahan yang berarti dalam cara berperasaan dan berperilaku. Maka, orang yang mengalami gangguan dalam alam perasaannya, harus dibantu untuk meninjau kembali caranya berfikir dan memanfaatkan akal yang sehat.[2]

Teori ini kembangkan pada tahun 1950-an oleh Albert Ellis, seorang ahli clinical psychology (psikologi klinis).[3] Dalam Rational Emotive Therapy ini mementingkan berfikir rasional sebagai tujuan terapeutik, menekankan modifikasi atau pengubahan keyakinan irasional yang telah merusak berbagai konsekuensi emosional dan tingkah laku. Atau secara ringkasnya seorang klien didukung untuk menggantikan ide-ide yang tidak rasional dengan ide yang lebih rasional untuk memecahkan permasalahan yang dihadapi dalam hidupnya.[4]
                              Adapun tujuan utama Rational Emotive Therapy ini adalah menghilangkan kecemasan, ketakutan, kekhawatiran, dan ketidakyakinan diri. Dan untuk mencapai perilaku yang rasional, kebahagiaan, dan aktualisasi diri.[5] Dalam konseling rational emotive, seorang konselor harus menempatkan dirinya sebagai seorang pribadi yang lebih aktif untuk menelusuri masalah yang dihadapi seorang klien.

B.     Hakekat manusia menurut Rational Emotive Therapy (RET)
Rational Emotive Therapy (RET) adalah aliran psikoterapi yang berlandaskan bahwa manusia dilahirkan dengan potensi, baik untuk berfikir rasional dan jujur maupun untuk berfikir irasional dan jahat.[6] Ada beberapa pandangan terkait hakikat manusia yang diajukan oleh Albert Ellis, yang mewarnai teori Rational Emotive Therapy ialah sebagai berikut:[7]
a.       Manusia dipandang sebagai makhluk yang rasional dan juga tidak rasional.
Pada hakikatnya manusia itu memiliki kecenderungan untuk berfikir yang rasional atau logis, disamping itu juga ia memiliki kecenderungan untuk berfikir tidak rasional atau tidak logis. Kedua kecenderungan yang dimiliki oleh manusia ini akan tampak dengan jelas dan tergambar dalam bentuk tingkah lakunya yang nyata. Dengan kata lain, dapat dijelaskan apabila seseorang telah berfikir rasional atau logis yang dapat diterima dengan akal sehat, maka orang itu akan bertingkah laku rasional dan logis pula, atau disebut sebagai manusia yang sehat. Tetapi sebaliknya apabila seseorang itu berfikir yang tidak rasional atau tidak bisa diterima akal sehat maka ia menunjukkan tingkah laku yang tidak rasional, atau dalam Rational Emotive Therapy (RET) disebut sebagai manusia yang tidak sehat. Pola berfikir semacam inilah oleh Ellis yang disebut sebagai penyebab seseorang itu mengalami gangguan emosional.
Albert Ellis mengungkapkan beberapa  factor (penyebab) manusia berfikir tidak rasional, diantaranya:
1.      Bahwa seseorang itu pada hakikatnya ingin dihargai, dicintai ataupun disayangi oleh setiap orang.
2.      Bahwa seseorang itu memiliki kecenderungan untuk ingin yang serba sempurna dalam hidupnya.
3.      Bahwa diantara manusia ini tidak semuanya tergolong baik, dan ada pula manusia yang tergolong jahat, kejam, dan jelek.
4.      Manusia memiliki kecenderunagn memandang bahwa malapetaka yang terjadi sebagai suatu yang tidak diinginkan.
5.      Ketidaksenangan, ketidakpuasan, ataupun ketidakbahagiaan pada seseorang itu dipandang bersumber dari kondisi luar dirinya semata.
6.      Seseorang memiliki kecenderungan untuk hidup bergantung kepada orang lain.
7.      Seseorang memiliki kecenderungan lebih mudah menghindari tanggung jawab (kesulitan-kesulitan) daripada menghadapinya.
8.      Seseorang memiliki kecenderungan untuk tidak menghiraukan masalah-masalah orang lain. Karena dipandang oleh seseorag bahwa masalah orang lain itu tidak ada sangkut pautnya dengan dirinya sendiri.
9.      Pengalaman masa lalu dipandang sebagai suatu factor yang menentukan tingkah laku masa kini (sekarang).
10.  Seseorang memiliki kecenderungan untuk mencari pemecahan suatu masalah yang sempurna.
b.      Pikiran, perasaan, dan tindakan manusia adalah merupakan suatu proses yang satu dengan yang lainnya tidak dapat dipisahkan.
Rational Emotive Therapy (RET) memandang bahwa manusia itu tidak akan bisa lepas dari perasaan dan perbuatannya. Perasaan seseorang senantiasa melibatkan pikiran dan tindakannya. Tindakan selalu melibatkan pikiran dan perasaaan seseorang. Apabila seseorang merasakan sesuatu, maka ia memikirkan dan bertindak tentang sesuatu itu. Demikian pula sebaliknya. Karena itu untuk memahami bentuk-bentuk penyimpangan tingkah laku tertentu pada seseorang, maka hendaknya dipahami bagaimana ia berperasaan, berfikir, menerima dan melaksanakan sesuatu itu, serta apa yang ada dibalik semua itu.
c.       Individu bersifat unik dan memiliki potensi untuk memahami keterbatasanya, serta potensi mengubah pandangan dasar dan nilai-nilai yang diterimanya secara tidak kritis.
Individu itu dilahirkan dengan membawa potensi-potensi tertentu, ia memiliki berbagai kelebihan dan kekurangannya serta keterbatasannya yang bersifat unik. Sesuai dengan prinsip diferensiasi  bahwa seseorang itu tidak ada yang identik atau sama persis. Rational Emotive Therapy (RET) memandang bahwa individu itu memiliki potensi untuk memahami kelebihan-kelebihan dan keterbatasan-keterbatasannya itu. Namun disela-sela kelebihan dan keterbatasan itu individu harus memiliki potensi untuk berpandangan yang rasional dan realistis, agar individu itu mampu melakukan adaptasi diri dengan baik.

C.    Fungsi dan peran konselor dalam Rational Emotive Therapy (RET)
Fungsi konselor dalam Rational Emotive Therapy ini adalah mengajak dan membuka ketidaklogisan pola berfikir klien dan membantu klien mengubah pikirannya yang irasional dengan mendiskusikannya secara terbuka dan terus terang.[8]
Peran konselor dalam proses konseling rasional emotif akan tampak jelas dengan langkah-langkah konseling sebagai berikut:[9]
a)      Langkah pertama
Dalam langkah ini konselor berusaha menunjukkan kepada klien bahwa masalah yang dihadapinya berkaitan dengan keyakinannya yang tidak rasional. Disini klien harus belajar untuk memisahkan keyakinan rasional dari yang tidak rasional. Pada tahap ini peranan konselor adalah sebagai propagandis yang berusaha mendorong, membujuk, meyakinkan, bahkan sampai kepada mengendalikan klien untuk menerima gagasan yang logis dan rasional. Jadi, pada langkah ini peran konseling ialah menyadarkan klien bahwa gangguan atau masalah yang dihadapinya disebabkan oleh cara berfikirnya yang tidak logis.
b)      Langkah kedua
Peranan konselor adalah meyadarkan klien bahwa pemecahan masalah yang dihadapinya merupakan tanggung jawab sendiri. Maka dari itu dalam konseling rasional emotif ini konselor berperan untuk menunjukkkan dan menyadakan klien, bahwa gangguan emosional yang selama ini dirasakannya akan terus menghantuinya apabila dirinya akan tetap berfikir secara tidak logis. Oleh karenanya klienlah yang harus memikul tanggung jawab secara keseluruhan terhadap masalahnya sendiri.
c)      Langkah ketiga
Pada langkah ketiga ini konselor berperan mengajak klien untuk menghilangkan cara berfikir dan gagasan yang tidak rasional. Konselor tidaklah cukup menunjukkan klien bagaimana proses ketidaklogisan berfikir ini, tetapi lebih jauh dari itu konselor harus berusaha mengajak klien mengubah cara berfikirnya dengan cara menghilangkan gagasan-gagasan yang tidak rasional.
d)     Langkah keempat
Peranan konselor mengembangkan pandangan-pandangan yang realistis dan menghindarkan diri dari keyakinan yang tidak rasional. Konselor berperan untuk menyerang inti cara berfikir yang tidak rasional dari klien dan mengajarkan bagaimana caranya mengganti cara berfikir yang tidak rasional dengan rasional.

D.    Teknik-teknik yang digunakan dalam Rational Emotive Therapy (RET)
Sebagaimana telah diuraikan dimuka bahwa inti dari konseling rasional emotif adalah menghilangkan cara berfkir yang tidak logis yang dapat menimbulkan gangguan emosional.
Untuk mengatasi masalah tersebut digunakan berberapa teknik konseling rasional emotif sebagai berikut:[10]
a.       Teknik pengajaran
Dalam konseling rasional emotif konselor mengambil peranan lebih aktif dari klien. Maka dari itu teknik pengajaran disini memberikan keleluasaan kepada konselor untuk berbicaara serta menunjukkan sesuatau kepada klien, teruatama menunjukkan bagaimana ketidaklogisan berfikir itu secara langsung menimbulkan gangguan emosional kepada klien.
b.      Teknik konfrontasi
Dalam teknik konfrontasi ini, konselor menyerang ketidaklogisan berfikir klien dan membawa klien kearah berfikir logis empiris.
c.       Teknik persuasif
Teknik persuasif, yaitu meyakinkan klien untuk mengubah pandangannya, karena pandangan yang ia kemukakan itu tidak benar. Konselor langsung mencoba meyakinkan dan mengemukakan berbagai argumentasi untuk memunjukkan apa yang diannggap oleh klien benar tidak bisa diterima atau tidak benar.
d.      Teknik pemberian tugas
Dalam teknik ini konseor menugaskan klien untuk mencoba melakukan tindakan tertentu dalam situasi nyata. Teknik ini bisa dilakukan dengan menugaskan kepada klien untuk bergaul kepada anggota masyarakat kalau mereka merasa dikucilkan dalam pergaulan, membaca buku untuk memperbaiki kekeliruan cara berfikirnya












Tidak ada komentar:

Poskan Komentar